Opini

Hari Buruh, Benarkah Sejahtera dalam Sistem Kapitalisme?

80
×

Hari Buruh, Benarkah Sejahtera dalam Sistem Kapitalisme?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ratih Ramadani, S.P.
(Praktisi Pendidikan)

Setiap memasuki tanggal 1 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Namun di tengah peringatan hari buruh ini, problem buruh masih sangat kompleks. Mulai dari upah rendah, eksploitasi tenaga buruh, hingga maraknya PHK dan sempitnya lapangan kerja, juga membuat nasib buruh makin terpuruk.

Dalam perjalanan sejarah setelah Indonesia merdeka, kondisi dunia kerja atau kaum buruh tampaknya tidak menunjukkan ke arah yang lebih baik dibandingkan pada masa sebelum kemerdekaan. Buruh yang bekerja di sektor pertanian, sektor manufaktur skala kecil dan menengah, memiliki standar upah yang sangat kecil disertai kondisi kerja yang sangat buruk.

Begitu pula di era orde baru dan di zaman reformasi sekalipun, kondisi buruh sangat memprihatinkan. Standar upah yang ditetapkan atas buruh, jauh dari memenuhi kebutuhan bahkan sangat minim. Ditambah pula dengan kondisi kerja yang buruk, serta jaminan keamanan kerja buruh tidak menentu. Kondisi buruk yang dialami para buruh tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global.

Hari Buruh Internasional pada dasarnya berawal dari aksi demonstrasi para buruh di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1886. Para buruh menuntut jam kerja 8 jam per hari, 6 hari seminggu, dan upah yang layak. Aksi ini kemudian diwarnai dengan kerusuhan dan tragedi Haymarket Affair. Sejak saat itu, 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional di berbagai negara di seluruh dunia.

Mengacu pada laporan Internasional Labour Organization (ILO) tentang Tren Ketenagakerjaan dan Sosial 2024, ada dua isu utama yang menjadi sorotan terkait buru. Pertama, tingkat pengangguran global yang tinggi pada tahun 2024, diperkirakan 200 juta orang lebih masih menganggur. Kedua, kesenjangan sosial yang semakin lebar. Saat ini ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin semakin parah. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa 1 persen populasi manusia terkaya dunia, menguasai lebih dari setengah kekayaan global (tirto.id, 26/04/2024).
Persoalan buruh yang belum tertangani hingga saat ini, jika kita lihat dari akar permasalahan utama, tidak lain ialah buah dari penerapan sistem kapitalisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *