Opini

Harga Rumah Kian Melejit Rakyat Terjepit

64
×

Harga Rumah Kian Melejit Rakyat Terjepit

Sebarkan artikel ini

By : Rengganis Santika A, STP

 

Rumah adalah kebutuhan asasi setiap orang. Bahkan hewanpun butuh tempat bernaung. Terlebih lagi bagi sebuah keluarga, rumah menjadi perkara ‘urgen’. Keberadaan rumah merupakan indikator kualitas hidup seseorang. Rumah juga menjadi indikator kuat tidaknya perekonomian sebuah negara. Bila kita berbicara kebutuhan dasar seperti sandang (pakaian) dan pangan (makanan), maka pasti disebut pula kebutuhan papan (rumah). Namun miris disaat rumah menjadi kebutuhan mendesak, harga rumah justru terus naik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa solusi tuntas untuk masalah ini? Bagaimana sudut pandang islam dan solusinya ?

Fakta Dan Faktor Penyebab Mahalnya Harga Rumah
CNN Indonesia, kamis 16 Mei 2024, merilis berita, bahwa Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer melanjutnya peningkatan pada kuartal I 2024. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang mencapai 1,89 persen (yoy) pada kuartal I 2024. Angka ini, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2023 sebesar 1,74 persen. Peningkatan IHPR tersebut terutama didorong kenaikan harga properti tipe kecil yang meningkat 2,41 persen. Melanjutkan kenaikan harga di kuartal IV 2023 sebesar 2,15 persen.
Faktanya kenaikan harga rumah saat ini merupakan fenomena global, termasuk di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa kenaikan harga rumah adalah problem sistemik. Hampir semua negara yang mengalaminya dipengaruhi oleh faktor-faktor penyebab yang juga hampir sama. Seperti naiknya biaya konstruksi, bahan bangunan dan upah pekerja. Inflasi dan kenaikan suku bunga pun ikut berpengaruh. Ketika suku bunga naik, kredit pemilikan rumah (KPR) pun naik, sehingga harga rumah mahal. Saat ekonomi memburuk daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini mendorong masyarakat berpikir pragmatis “yang penting ada rumah” tak peduli kelayakan, dan kualitas hidup sehat.

Maka tak heran terjadilah banyak problem rumah tangga dan generasi.
Kita masih ingat, krisis global tahun 2008 berawal dari jatuhnya bisnis properti/perumahan akibat spekulasi properti dan problem regulasi di AS, banyak warganya tunawisma. Bahaya lain yang mengancam, ketika harga lahan tinggi dan terbatas, para pengembang nakal memburu lahan di luar kota, terjadilah alih fungsi lahan hijau yang masif. Akhirnya masalah rumah dan lahan akan berdampak pada generasi. Kelak mereka harus menanggung kerusakan lingkungan dan sosial. Disisi lain pengembang hanya berfikir untung dengan membebankan semua biaya dan resiko pada pembeli. Tak sedikit demi keuntungan pribadi orang membeli rumah untuk investasi bukan untuk ditempati, walhasil yang justru membutuhkan gigit jari. Riba, inflasi dari moneter kapitalisme yang rapuh dan ‘profit oriented’ adalah tabiat serta ciri khas sistim kapitalisme sekuler. Jadi mahalnya harga rumah adalah buah penerapan kapitalisme sekular.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *