Opini

Fenomena NEET di Tengah Bonus Demografi

44
×

Fenomena NEET di Tengah Bonus Demografi

Sebarkan artikel ini

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisaa:9).

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, bicara mengenai data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ada 9,9 juta penduduk Indonesia yang tergolong usia muda atau Gen Z belum memiliki pekerjaan. Angka tersebut didominasi oleh penduduk yang berusia 18 hingga 24 tahun.(Kumparan.com, 20/5/2024).

Demikian pula yang dikutip dari Kompas.com 24/5/2024, ternyata dari dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa yang menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET) adalah penduduk Indonesia generasi Z berusia 15-24 tahun. Generasi yang menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET) yang ada di daerah perkotaan yakni sebanyak 5,2 juta orang dan 4,6 juta di pedesaan.

NEET di Tengah Bonus Demografi

Dilansir dari mpr.go.id 15/8/2023, Indonesia diperkirakan akan menghadapi era bonus demografi pada 2030 hingga 2040 mendatang. Bonus demografi yang dimaksud adalah proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar jika dibandingkan dengan usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Terkait ini pengamat kebijakan publik Dr. Hastin Umi Annisa, S.E., M.M. menyatakan di kanal Muslimah Ulul Albab 27/5/2023 dalam acara bertema “Pengangguran di Tengah Bonus Demografi”, menyampaikan tentang hal yang harus dicermati dari bonus demografi di Indonesia, yakni persoalan pengangguran yang meningkat berkisar 7,99 juta orang pada usia 15—30 tahun. Beliau menilai bahwa hal Ini menjadi sangat penting karena jika bonus demografi tidak dimanfaatkan secara benar, maka akan menjadi “kutukan” bagi suatu negara, bukan peluang. Padahal seharusnya menjadi keuntungan yang sangat besar.
Indonesia dengan sumber daya alam yang sangat melimpah baik dari sisi tambang batu bara dan minyak bumi, maupun dari sisi kehutanan, laut, pertanian, dan lain-lain, saat ini diasuh sistem sekuler kapitalisme.

Realitanya penguasaan sumber daya alam yang diserahkan, dikelola, dan dikuasai oleh perusahaan, baik lokal, swasta, maupun luar negeri, berakibat tenaga kerja tidak terserap karena penyediaan tenaga kerjanya diserahkan kepada mekanisme pasar. Tenaga kerja produktif yang berlomba mendapatkan lapangan pekerjaan, dihadapkan pada sulitnya lapangan kerja sebagai imbas dari investasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang bersifat padat modal, bukan padat karya.

Berdasarkan data BPS (2021—2022) pada Agustus 2023 terdapat sejumlah 9.896.019 jiwa atau hampir 21% dari total penduduk dengan rentang kelahiran antara tahun 1997 hingga 2012 ( hampir 10 juta generasi Z) di Indonesia merupakan pengangguran atau NEET (not in employment, education and training) atau sedang tidak dalam pekerjaan, pendidikan, dan pelatihan).

Persentase Ini menunjukkan bahwa dari 100 orang penduduk muda, ada 22 orang yang tanpa kegiatan. Diwartakan CNBC Indonesia 21/5/2024, bahwa generasi muda ini merasa putus asa karena berbagai penolakan yang mereka terima. Akhirnya mereka tidak percaya diri untuk lanjut melamar kerja sehingga tergolong NEET.

Sebetulnya fenomena NEET bukan hanya karena Gen Z yang kurang tangguh dan gampang menyerah saat ditolak lamaran kerjanya. Namun beberapa kegagalan negara merealisasikan tingginya angkat NEET di Indonesia.

Pertama, saat menyiapkan para pemuda untuk menjadi sosok yang berkualitas melalui sistem pendidikan, negara gagal mewujudkannya. Sistem pendidikan yang ada ternyata belum mampu membentuk para pemuda menjadi orang-orang yang memiliki keahlian tertentu untuk bekal hidup mereka. Sstem pendidikan yang ada belum mampu membentuk mental tangguh para pemuda agar pantang menyerah meskipun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan.

Kedua, saat mempersiapkan SDM ahli yang siap hadapi kancah kerja, negara gagal menyediakan sarana pendidikan tinggi yang terjangkau oleh setiap rakyat. Tngginya UKT menjadi penganjal sehingga banyak pemuda yang gagal kuliah karena tidak mampu membayarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *