Opini

Efek Zonasi

99
×

Efek Zonasi

Sebarkan artikel ini

By : Firda Nur Azizah

(mahasiswa)

 

Dilansir dari ayobandung..com, di Kabupaten Bandung yang memiliki jumlah penduduk besar, masih saja ada yang belum memiliki sekolah terutama sekolah SMA negri. Menurut Ketua DPRD Bandung Sugianto ada beberapa daerah yang masih kesulitan bisa masuk SMA negri dengan alasan jarak rumah yang jauh.

Banyak daerah di Kabupaten Bandung, mengalami kekurangan sekolah, terutama untuk wilayah pegunungan yang jauh dari perkotaan. Padahal jumlah penduduk bertambah besar, sehingga usia sekolah pun bertambah banyak.

Negara Indonesia hanya mewajibkan program wajib belajar selama 9 tahun (sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama/ SMP). Sehingga untuk pembangunan sekolah menengah atas (SMA) belum diprioritaskan. Ditambah minimnya anggaran pendidikan yang diberikan oleh negara untuk pelaksanaan pendidikan bagi warganya.

Akhirnya, meski SMA berlabel negeri, negara memberi kebebasan sekolah untuk memungut iuran belajar untuk menunjang operasional sekolah. Maka wajar jika negara hanya mengutamakan pembangunan sekolah SMA untuk wilayah perkotaan, yang biasanya masyarakatnya mampu untuk membayar biaya sekolah negeri sesuai ketentuan. Berbeda dengan wilayah pegunungan yang biasanya masyarakatnya hidup sederhana dan penghasilannya pun secukupnya buat hidup di desa. Negara merasa kesulitan untuk membangun SMA negeri dengan memungut iuran sesuai pendapatan masyarakat. Ditambah adanya sistem PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) yang saat ini menggunakan zonasi, mengakibatkan siswa yang rumahnya jauh dari sekolah tidak bisa masuk dalam sistem zonasi. Mereka kalah bersaing dengan siswa-siswa yang rumahnya lebih dekat dari sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *