Cerbung

Di Saat Amanah Tak Lagi Bertahta (3)

77
×

Di Saat Amanah Tak Lagi Bertahta (3)

Sebarkan artikel ini

Hanya sesaat, kemudian raungan bunyi knalpot kendaraannya pun menghilang.

Sementara sorak-sorai para pengunjung, yang sedang asik menonton pertunjukkan organ tunggal dipelataran parkir kawasan Gor Haji Agus Salim, mulai riuh.

Sebenarnya, suasana tenang dan nyaman, jauh dari riuh suara acaralah yang diinginkan Joe, sehingga dapat memberi kenyamanan hatinya yang masih belum pulih dari kegalauan.

“Ma’af, lebih baik, kopinya diminum dulu, sebelum keburu dingin, ya Joe!” ucap bu Nana, sambil memberes-bereskan letak meja dan kursi yang belum sempat dia tata.

“Oops, Ia bu, ma’af juga, terimakasih telah mengingatkan Joe, yacch.

Bu Nana, pun tersenyum renyah, untuk membalas ucapan Joe. Kain kerudung yang menutupi wajahnya, memperlihatkan keanggunan sosok seorang ibu didalam usiannya yang telah memasuki 60 tahun

Sekelebatan, bayangan sang isteripun melintas dihadapannya.

“Astarfirullah” Joe berucap, dan memohon ampunan kepada Allah. Sesaat kedua tangannya mendekap wajah. Terlihat sedikit rona memerah, karena merasa berdosa, telah membandingkan isterinya dengan wanita lain, meskipun wanita tersebut sepantaran Ibunya.

Lalu, Ia pun mencoba menangkan diri. Joe sadar. Ia pria yang tidak mudah tergoda. Apalagi Ia telah memiliki isteri yang cantik, pintar, dan anggun.

Rasa sayang Joe kian bertambah, disaat dari pernikahannya, Allah telah menitipkan kepada Aprilia dua orang buah hati yang sangat Ia sayangi.

Meski terkdang suka usil, selain itu, Joe juga orangnya tidak cemburuan. Ia hanya menyerahkan apa yang telah Allah berikan kepadanya, dan Ia yakini, sesuatu yang telah diamanahkan kepadanya, tidak akan pergi tanpa kehendak NYA.*

Joe, masih mengingat godaan-godaan yang dilontarkannya pada Aprilia, beberapa bulan lalu.

“Paa,! ucap isterinya. “nanti Aprilia, mo buka bareng, bersama teman-teman Alumni SMA, ya,”

“Apa Papa mau ikut,” ayok gabung dan berkenalan dengan teman-teman Aprilia,”. Sambung isterinya membuka pembicaraa. Saat itu, keduanya sedang duduk-duduk santai setelah menyelesaikan shalat Ashar, diserambi rumah miliknya.

“ngak deeh, ntar kehadiran papa, bisa mengganggu reuniannya,” ucap Joe, menjawab perkataan isterinya.

“biasanya, semua kenalan dan kenangan lama bakal hadir, bisa mungkin????????,” Joe, dengan sengan menggantung dan memutus perkataannya, untuk melihat reaksi dari Aprilia.

Ia tahu, Aprilia sangat memahami karakternya, yang tidak cemburuan. Dan perkataan, yang barusan dilontarkan, itu hanya untuk menggoda dirinya saja.

Baca Sebelumnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *