Opini

Demokrasi, Meng-lkayakan Rakyat atau Mensejahterakan Korporat?

71
×

Demokrasi, Meng-lkayakan Rakyat atau Mensejahterakan Korporat?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rahmatul Aini

Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) jumlah pengangguran di indonesia mencapai hampir 7,2 juta pada februari 2024. Jumlahnya berkurang sekitar 790 ribu orang atau yang menyusut 9,89% dibanding februari 2023 (katadata) benarkah demikian? Jika memang data berbicara tapi tidak sesuai real lapangan mengapa ini seolah menjadi apresiasi?

Ada persolan besar yang menghinggapi negri kita tercinta ini, Indonesia adalah negeri yang tersubur dengan kekayaan alam tapi tak sedikitpun masyarakat bisa menikmati, membludaknya judi online, meningkatnya TKI dan TKW sedangkan sumber daya alam negeri di kuras habis oleh para asing dan aseng.

Persoalan ini dianggap hal biasa oleh para elit konglomerat dimana kendali kuasa mereka pegang bahkan lebih miris hati para penguasa membuka pintu gerbang bagi para investor asing mengeruk kekayaan negeri, jadi hal yang wajar apabila kita menjumpai data pengangguran rendah mengalami penurunan disebabkan kouta migran makin besar, profesi baru judi online diberikan keluasan asal bayar pajak ke negara bahkan indonesia pemecah rekor judi online nomer satu, lalu masyarakat sendiri tak diberi peluang mengais rizki dalam negeri.

Ada apa sebenarnya dengan data menipisnya pengangguran? Yang seolah di desaign untuk meluluh lantakan hati masyarakat, padahal kenyataan di lapangan tak demikian. Apakah para penguasa merasa sudah membantu rakyat dengan memberikan peluang pekerjaan menjadi budak di negeri orang? Apakah para penguasa sudah merasa berjasa dengan memberi kebebasan kepada mereka yang berjudi online dengan catatan harus bayar pajak ke negara? Sungguh ini sangat memiriskan, masyarakat sengaja dimiskinkan.

Lihatlah bagaimana kehidupan para petinggi negeri hari ini memamerkan kekayaan, rumah bak istana, mereka bisa sambil memandang proyek IKN dari atas balkon, kemanapun pergi ada bekingan dibelakang, padahal rakyat sendiri terlunta-lunta hidup dibawah kolong jembatan. Inilah salah satu gambaran bagaimana para penguasa dikayakan oleh rakyat mereka sendiri, begitu sejahtera nya mereka dengan hasil keringat rakyat padahal mereka hidup dengan berkelimpahan kekayaan dari hasil kerja keras rakyat, mau tau buktinya? Dengan PAJAK karena 80% pendapatan negara itu lewat pajak, masyarakat tambah menjerit dengan pungutan pajak, betapa kejinya para penguasa menguras keringat, tenaga, rakyat dengan pajak padahal kita hidup di tanah nenek moyang kita sendiri, tapi anehnya masyarakat dipaksa membayar ke negara, masyarakat mencoba mengais rizki lewat usaha UMKM tapi sayangnya pajak yang drastis puluhan juta melebihi pemasukan, lalu dengan enaknya para penguasa meminta pajak dengan menjual slogan atas nama demokrasi dari rakyat, oleh rakat, untuk rakyat, padahal slogan itu sudah basi karena fakta yang kita temukan yang kaya makin kaya, yang miskin maskin miskin.

Mereka para penguasa dengan bahagianya hidup dalam kemewahan, merenggut hak-hak rakyat tanpa sisa sedikitpun, tambang dikuasai, SDA dimiliki pribadi, tak cukup dengan itu mereka tetap serakah meminta uang rakyat lewat pajak. Padahal ada diantara masyarakat hidup aja susah, apalagi mau gaji pemerintah, makan sehari aja penuh perjuangan apalagi mau berkorban memberi para penguasa makan, dimana letak tanggung jawab mereka sebagai penguasa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *