Opini

Dapatkah UU KIA Menyejahterakan Ibu dan Anak?

100
×

Dapatkah UU KIA Menyejahterakan Ibu dan Anak?

Sebarkan artikel ini

Oleh. Mila Ummu Al

 

Dilansir dari news..detik.com (8-6-2024), DPR mengesahkan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (UU KIA) pada Fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan pada Selasa (4/6). UU ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan ibu dan anak pada fase 1.000 hari pertama kehidupan terkait dengan akses layanan kesehatan seperti melahirkan, menyusui, dan pemenuhan gizi anak. Pada intinya, beleid tersebut bermaksud untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, salah satunya mengatur hak ibu untuk mendapat cuti melahirkan tiga bulan pertama dan paling lama tiga bulan berikutnya.

Banyak masyarakat yang menyambut gembira ketika mengetahui adanya cuti selama enam bulan bagi ibu melahirkan. Sayangnya, kegembiraan tersebut seketika sirna setelah mengetahui bahwa hak cuti selama enam bulan (tiga bulan tambahannya) hanya berlaku bagi ibu yang mengalami masalah kesehatan (kondisi khusus) yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Hal tersebut tercantum dalam UU KIA Pasal 4 ayat 3.

Banyak yang menyayangkan bahwa aturan hak cuti enam bulan hanya berlaku bagi ibu yang mengalami masalah kesehatan. Padahal cuti selama enam bulan sangat ideal bagi ibu pekerja yang habis melahirkan agar optimal mengurus sang bayi, terutama dalam pemberian ASI eksklusif. Sebab sejumlah ibu pekerja mengeluh ketika masa cuti tiga bulannya berakhir, seketika pemberian ASI eksklusif menjadi tidak optimal karena kelelahan saat bekerja. Apalagi kondisi tempat kerja juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental ibu.

Selain itu, sejumlah buruh ragu ketentuan hak cuti melahirkan tersebut bisa terlaksana di lapangan. Sebab selama ini, banyak tenaga kerja Indonesia yang tidak memperoleh hak cuti melahirkan tiga bulan karena tidak mendapatkan bantuan hukum untuk memperjuangkan haknya. Tak bisa dimungkiri, tidak adanya sanksi bagi pengusaha yang melanggar maka ada seribu satu alasan bagi perusahaan untuk tidak membayar penuh hak cuti melahirkan buruh perempuan. Terutama sebagian perusahaan kecil banyak yang merasa keberatan memberikan hak cuti beserta gaji pokok kepada pekerjanya.

Kekhawatiran ini juga diungkapkan oleh Ketua Umum FSBPI (Federasi Buruh Perempuan Indonesia). Ketua Umum FSBPI Jumishi menyatakan bahwa sejumlah perusahaan akhirnya memberhentikan buruh yang berstatus kontrak demi menghindari kewajiban membayar upah cuti melahirkan selama tiga bulan. Menurut Jumishi, cuti enam bulan akan sulit terealisasi di tengah lemahnya pengawasan dinas ketenagakerjaan. Apalagi setelah UU Cipta Kerja disahkan, membuat hubungan atau status kerja menjadi tidak pasti dan sangat fleksibel. (bbc.com, 7-6-2024)

Ilusi Kesejahteraan Perempuan

Negara berharap dengan adanya hak cuti melahirkan dapat meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja dan kontribusinya terhadap peningkatan produktivitas nasional. UU KIA seolah dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan ibu dan anak, namun kenyataannya UU ini lahir dari semangat mengeksploitasi perempuan. Sejatinya lahirnya UU KIA menjadi bukti bahwa negara hanya fokus bergerak membangun dunia kerja yang inklusif dan produktif bagi perempuan.

Kita tahu bahwa selama ini kendala-kendala reproduksi dan maternal menjadi alasan utama yang menghambat kaum perempuan berpartisipasi di dunia kerja. Tampak dari semangat meraih target ekonomi nasional, UU KIA lebih kental dengan aroma pemberdayaan ekonomi perempuan daripada semangat negara dalam menyejahterakan Ibu dan anak. Lahirnya UU ini menjadi bukti bahwa negara mendorong perempuan untuk bekerja dan berkontribusi lebih, namun juga harus mampu mengurus anaknya pascapersalinan.

Faktanya, selama negara minim dalam memfasilitasi para ibu maka hak cuti yang diberikan tidak akan menjamin terwujudnya kesejahteraan ibu dan anak. Misalnya saja, tidak ada jaminan kesehatan gratis bagi ibu dan anak, serta tak ada jaminan tersedianya makanan bergizi seimbang bagi keduanya. Ditambah lagi, tak ada jaminan bahwa ibu yang bekerja dapat memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan menyempurnakannya selama dua tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *