Opini

CARA ISLAM MEMBASMI KORUPSI

63
×

CARA ISLAM MEMBASMI KORUPSI

Sebarkan artikel ini

By : Sari Setiawati

Di negeri ini, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, korupsi tampak semakin menjadi-jadi. Yang paling mutakhir adalah korupsi dalam tata kelola timah oleh PT Timah Tbk, selama 2015-2022, yang melibatkan 16 tersangka, seperti yang telah ditetapkan oleh Jaksa Agung. Menurut hasil penghitungan ahli lingkungan IPB University, Bambang Hero Saharjo, dalam kasus ini negara mengalami kerugian fantastis sekitar Rp 271 ( kompas, 1/4/2024). Ini baru dari kasus sektor pertambangan, selainnya di sektor minerba (mineral dan batubara), di antara hal yang paling banyak merugikan negara.

Korupsi juga terjadi di sektor pembangunan dan infrastruktur. Salah satu modus korupsi di sektor ini, menurut Studi World Bank, adalah mark up yang sangat tinggi, yaitu bisa lebih dari 40 persen. KPK mencatat, dalam sebuah kasus korupsi infrastruktur, dari nilai kontrak 100 persen, ternyata nilai riil infrastruktur hanya tinggal 50 persen. Sisanya dibagi-bagi dalam proyek bancakan para koruptor.

Menurut ICW ( Indonesia Corruption Watch) juga, korupsi terjadi hampir di seluruh sektor pemerintahan, baik lembaga eksekutif, maupun yudikatif. Kasus korupsi di lingkungan BUMN menyebabkan kerugian negara, begitu pula di sektor pendidikan, kasus korupsi juga banyak terjadi. Terdapat 240 korupsi pendidikan sepanjang Januari 2016 hingga September 2021.

Para Pelaku Korupsi menurut data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sejak 2004-2023 menyebutkan, sebanyak 344 kasus korupsi melibatkan anggota DPR dan DPRD. Jumlah ini terbanyak ketiga di bawah kasus korupsi yang menjerat kalangan swasta (399 kasus) dan pejabat eselon I-IV (349 kasus). Korupsi juga melibatkan para kepala daerah, para aparat penegak hukum. Dan yg lebih memprihatinkan, korupsi bahkan melibatkan pimpinan KPK, yaitu ketua KPK Firli Bahuri yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus pemerasan terhadap tersangka korupsi di Kementerian Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. sungguh miris.

Merajalelanya kasus korupsi di berbagai lini, bahkan pada jajaran oknum pejabat dan aparat negeri ini tentu tidak dapat dibiarkan. Apalagi berbagai usaha penuntasannya tidak menunjukkan hasil yang nyata, malah seperti formalitas agar terlihat ‘bekerja’. Buktinya, pimpinan KPK nya pun melakukan korupsi. Apa yang menjadi masalah utama dari merajalelanya kasus korupsi ini?

Faktor utama penyebab korupsi sebenarnya berpangkal dari ideologi (sistem aturan) yang diterapkan di negeri ini, yaitu sistem kapitalisme-sekuler, yang mewujudkan nilai-nilai kebebasan dan hedonisme dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Manusia dibiarkan bebas dari aturan agama (Islam, sebagai agama mayoritas di negeri ini), dan hal tersebut untuk meraih kesenangan dunia berupa mendapatkan materi (kekayaan ) sebanyak -banyaknya, bahkan dengan menghalalkan segala macam cara. Korupsi merupakan salah satu cara yang dihasilkan oleh paham kebebasan dan hedonisme ini.

Selain itu, ada tiga faktor juga yang menjadikan korupsi tidak tuntas, yaitu:
Pertama, faktor lemahnya karakter individu (misalnya individu yang tak tahan godaan uang suap). Kedua, faktor lingkungan/masyarakat, seperti adanya budaya suap atau gratifikasi yang berawal dari inisiatif masyarakat. Ketiga, faktor penegakan hukum yang lemah, misalnya adanya sikap tebang pilih terhadap pelaku korupsi, serta sanksi bagi koruptor yang tidak menimbulkan efek jera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *