Opini

Bullying, Adakah Solusi Tepat?

92
×

Bullying, Adakah Solusi Tepat?

Sebarkan artikel ini
Ratih Ramadani

Oleh : Ratih Ramadani, S.P

(Praktisi Pendidikan)

Generasi muda ialah harapan sebuah bangsa. Generasi yang akan mengisi peradaban. Generasi yang diharapkan mampu melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik dan membawa peradaban menjadi peradaban yang gemilang.

Video aksi bullying atau perundungan terhadap anak di bawah umur di Bandung, viral di media sosial TikTok. Video itu viral dan dibagikan ulang melalui media sosial, salah satunya lewat akun X atau Twitter @basebdg, Sabtu (27/4/2024).

Artikel ini telah tayang di Kompas..com dengan judul “Viral di Tiktok, Video Bullying Anak di Bandung Sebut Nama Jenderal TNI, Polisi Buru Pelaku”,

Dalam video yang beredar, tampak pelaku meminta seorang anak laki-laki membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya.

Remaja di Kota Bandung menjadi viral di media sosial Instagram karena melakukan perundungan dengan cara memukul hingga menjerit dan menyiarkannya secara langsung di akun Tiktok. (jabar..idntimes.com, 27/4/2024)

Mengerikan sekali. Generasi saat ini sudah banyak yang berani menampilkan tindak kekerasan kepada khalayak umum. Bahkan, perundungan nya pun ditayangkan secara live. Seolah tidak takut akan konsekuensi yang akan didapatkan setelah kejadian tersebut. Juga, seolah menjadi sebuah kebanggaan berperilaku demikian.
Lalu, apakah yang menyebabkan seseorang dengan tega melakukan perundungan?

Sekularisme dalam Kehidupan
Bullying yang masih ada saat ini merupakan hasil dari kehidupan yang tidak diiringi oleh tuntunan agama. Pemisahan agama dari kehidupan atau biasa disebut sekularisme akan melahirkan kebebasan. Kebebasan inilah yang digunakan banyak individu untuk melakukan tindak kejahatan, salah satunya ialah bullying atau perundungan yang dilakukan oleh remaja.

Tanpa ajaran agama yang dipakai dalam kehidupan, individu akan bertindak semaunya, sebebasnya, tidak memikirkan apakah perbuatan tersebut akan berdosa jika dilakukan. Apalagi bagi remaja yang emosinya masih meledak-ledak, dia akan mudah tersulut. Bisa jadi, dia berpikir masa bodoh terhadap konsekuensinya, baik itu sanksi hukum ataupun dosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *