Opini

BUAH DARI SISTEM PENDIDIKAN SEKULER – LIBERAL

83
×

BUAH DARI SISTEM PENDIDIKAN SEKULER – LIBERAL

Sebarkan artikel ini

Oleh : Umi Astuti
Pemerhati Keluarga dan Instruktur Go Ngaji

 

Jakarta – Lima siswi SMP di Jakarta membuat konten video yang berisi candaan terhadap Palestina. Aksi mereka mendapatkan kecaman, berujung permintaan maaf dan penyesalan kelima siswi tersebut.
Lima gadis dalam restoran cepat saji yang juga pro dengan Israel dengan tertawa tanpa beban mereka memvideo .Dalam video tersebut terlihat salah satu siswi yang masih ABG memegang tulang ayam goreng sambil bercanda menyebut ‘tulang anak Palestina’.”Tulang anak Palestina,” ucap salah satu ABG itu.
Kemudian salah satu kawannya ikut menimpali, sambil mencocol saus. “Darah anak Palestina,” timpal ABG lainnya. Terlihat mereka mengatakan hal tersebut sambil tertawa.

Menyikapi hal itu, Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta mengecam perilaku sekumpulan siswi itu. Disdik juga meminta para remaja dan orang tuanya meminta maaf.
“Kami mengecam perilaku tersebut dalam video dan sudah memanggil yang bersangkutan dan keluarganya untuk minta maaf,” kata Plt Kepala Dinas Pendidikan DKI, Budi Awaludin, saat dihubungi.
Budi menyebut juga bahwa ia akan memanggil remaja yang terlibat dalam video tersebut. Ia mengaku pihaknya sudah mengantongi data dari siswa tersebut.

Menuju Generasi (C) Emas

Menindaklanjuti video yang sudah telanjur viral tersebut, Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan melibatkan KPAI dan kepolisian untuk mencegah intimidasi fisik terhadap siswi pelajar SMP itu. Menurut Budi Awaluddin, pendampingan dan pembinaan kepada lima siswi tersebut karena mereka mendapat perundungan yang cukup besar di media sosial. Mereka juga mendapat perlindungan dari sisi mental oleh KPAI untuk meminimalisasi perundungan dari teman-teman sekolahnya. Sedih, miris, marah, dan kesal. Inilah yang dirasakan sebagian masyarakat setelah viralnya video penghinaan terhadap anak-anak Palestina.
Inikah potret Indonesia menuju generasi emas 2045 atau malah menjadi generasi yang mencemaskan pada masa mendatang?

Melihat hal ini, ada beberapa hal yang patut kita cermati dan menjadi bahan evaluasi:
Pertama, demi konten viral, apa pun dilakukan. Apa yang dilakukan para gadis remaja tersebut sudah keterlaluan, minus adab, dan mungkin sudah mati rasa nuraninya. Pantaskah derita anak-anak Palestina menjadi bahan candaan dan olokan? Mungkin ungkapan pepatah Arab sangat mewakili, “Kencingilah Sumur Zamzam, maka kamu akan terkenal.” Meski harus berbuat keburukan, asalkan bisa viral, hal tersebut seakan halal dilakukan.
A’udzubika min dzalik

Kedua, respons Dinas Pendidikan DKI Jakarta tidak pas. Disdik DKI Jakarta mengatakan bahwa kelima siswi tersebut tidak bermaksud mengejek ataupun menghina anak-anak Palestina, mereka hanya bercanda, tetapi karena terekam dan diunggah ke media sosial, akhirnya menjadi masalah. perbuatan mereka dengan dalih “bercanda dan tidak sengaja”, padahal merekam sambil mengolok-olok lalu diunggah ke media sosial sejatinya adalah bentuk kesengajaan.

Ketiga, perilaku tidak beradab. Lima siswi remaja tersebut merupakan sinyal dan tamparan keras bagi pemangku kebijakan, orang tua, guru, dan masyarakat . Sistem pendidikan sekuler telah gagal mendidik generasi berkepribadian mulia. Saat para siswi tersebut meminta maaf, harusnya orang tua mendampingi dan meminta maaf kepada publik atas perbuatan buruk yang dilakukan anak-anak mereka. Namun, faktanya tidak satu pun orang tua dari lima siswi tersebut terlihat mendampingi, dari pihak sekolah pun seharusnya meminta maaf.
Bagaimanapun perilaku tidak beradab anak adalah tanggung jawab orang tua dalam mendidik mereka.

Keempat, pembinaan kepada lima siswi ini mestinya diimbangi dengan pemberian sanksi atas perbuatan buruk mereka. Sanksi ini diberikan agar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya. Jika kesalahan fatal dapat selesai dengan permintaan maaf saja, peristiwa serupa akan berpotensi terulang kembali.

Dampak Pendidikan Sekuler

Tidak ada asap jika tidak ada api. Kemarahan warga atas perbuatan tidak beradab tersebut sangat wajar terjadi.Jika tidak ingin mendapatkan sanksi sosial dan teguran keras dari masyarakat, janganlah berulah dengan mencandai sesuatu yang tidak layak menjadi bahan candaan. Menunjukkan rasa kemanusiaan jauh lebih bijak ketimbang membuat konten negatif yang melukai hati masyarakat dan Umat Islam.

Perilaku lima siswi SMP tersebut harusnya menjadi bahan evaluasi bagi penguasa negeri ini. Apa yang bisadiharapkan dari penerapan sistem pendidikan sekuler liberal ?
Generasi menjadi tidak terkendali , tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk , mana yang halal dan haram , mana terpuji dan tercela.
Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Gaya hidup liberal diterapkan dengan asas kebebasan jauh dari kemuliaan bahkan dekat dengan kerusakan.
Jika tidak ingin kehilangan generasi emas pada masa depan, mereka harus diselamatkan dengan sistem Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *