Opini

Banjir Butuh Solusi Sistematis, Bukan Sekedar Solusi Pragmatis

119
×

Banjir Butuh Solusi Sistematis, Bukan Sekedar Solusi Pragmatis

Sebarkan artikel ini

By : Siti Maryam

 

Banjir adalah Salah satu bencana alam yang paling merusak dan sering kali melanda disebagian Provinsi. Kota Baturaja Kec. Ogan Komering Ulu (OKU). Pada tanggal (7/5) Pukul 08.300 air mulai meluap sampai ke jalan-jalan yang mengakibatkan akses jalan terputus dari arah Kota Baturaja-Ogan atau sebalikny dan tidak hanya merendam jalan-jalan tapi dari kejadian ini mengakibatkan lima kelurahan. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, tercatat 1.695 KK terdampak, dan 257 kk mengungsi, untuk kerugian materil terdata kaji cepat antara lain sebanyak 1.695 unit rumah terdampak, 4 unit fasilitas ibadah, satu unit jembatan gantung terputus serta 10 Ha lahan pertanian warga terdampak.
Banjir kembali melanda dan masih menjadi permasalahan yang dihadapi saat ini di sebagian provinsi. Dikota Baturaja ratusan warga mengungsi akibat dampak dari banjir yang melanda di 4 kecamatan, 16 desa & kelurahan. Banjir kali ini disebut sebagai banjir ke-2 terbesar yang melanda Kota Baturaja setelah sebelumnya banjir terjadi pada tahun 1982 yang saat itu banyak memakan korban jiwa.

Menurut Manager Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Gunalfi Menyebutkan bahwa banjir yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari lalu disebabkan karena faktor cuaca ekstrem. Dan berdasarkan analisa BMKG diketahui bahwa cuaca ekstrim disebabkan adanya pola shear line atau belokan angin dan konvergensi di wilayah Sumsel bagian Selatan dan Barat yang menyebabkan penumpukan masa udara dan membentuk awan-awan konvektif/hujan di wilayah-wilayah tersebut, termasuk Kabupaten OKU.

Penanganan bencana banjir bandang BPBD OKU Bersama tim gabungan menurunkan personil, peralatan ke lokasi banjir untuk melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak dan pendataan dampak kerusakan banjir. Dalam musibah kali ni menimbulkan dampak tanah longsor di 34 titik wilayah Kecamatan Ulu Ogan. Dan akibat bencana alam ini tercatat ada ratusan rumah penduduk di beberapa Kabupaten OKU terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1-2 meter bahkan, lebih parah dari yang sebelumnya terjadi pada tanggal 07/05/2024 kemari hanya berjarak 2 pekan saja dari kejadian banjir yang pertama. Parahnya lagi sampai ada rumah penduduk bahkan barang-barangnya hanyut terbawa arus sungai yang deras.

Tidak berselang waktu lama banjir kembali terjadi lagi di daerah Ogan Komering Ulu (OKU) dan tak tanggung-tanggung untuk kali ini Banjir bandang melanda Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (23/5). Banjir di picu hujan dengan intensitas sangat lebat terjadi selama dua hari 22 s/d 23 Mei merendam delapan kecamatan. Kondisi terkini tujuh kecamatan yang terdampak banjir di Kabupaten OKU banjir berangsur surut sedangkan Kecamatan Paninjauan belum surut hingga kini.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi BNPB korban jiwa akibat banjir menyebabkan sebanyak 6.244 Kepala Keluarga atau 29.312 jiwa terdampak. Kerugian material 6.830 unit rumah terdampak, tujuh unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak ringan, lima unit kios terdampak dan dua unit Jembatan terdampak.

Adapun lokasi terdampak banjir meliputi Kelurahan Tanjung Agung, Saung Naga, Batu Kuning, Desa Tanjung Karang, Karang Agung, Laya, Karang Endah, Pusar, Suka Maju, Batu Putih di Kecamatan Baturaja Barat. Kelurahan Sekarjaya, Baturaja Lama, Kemala Raja, Air Paoh, Sukajadi, Pasar Baruh, Desa Tanjung Kemala, Tanjung Baru, Terusan di Kecamatan Baturaja Timur. Desa Banu Ayu, Tanjung Dalam, Lubuk Batang Lama, Lubuk Batang Baru, Belatung, Karta Mulya, Gunung Meraksa di Kecamatan Lubuk Batang. Desa Kepayang, Belimbing, Kedondong di Kecamatan Peninjauan. Desa Penyandingan, Lubuk Leban di Kecamatan Sosoh Buay Rayap. Desa Karang Lantang, Lubuk Tupak, Muara Sae, Lontar, Kemala Jaya di Kecamatan Muara jaya. Desa Pengaringan, Banjar Sari, Pandan Dulang, Kebun Jati, Sleman, Tubohan, Raksa Jiwa, Sukarami, Batang Hari, Ulak Pandan, Keban Agung, Singapura, Nyiur sayak, Suka Merindu, Padang Bindu, Bedegung, Panggal-panggal, Tanjung Kurung di Kecamatan Semidang Aji. Desa Bumi Kawa, Negeri Ratu, Sundan, Segara Kembang, Tualang, Gedung Pekon, Sukarajadi Kecamatan Lengkiti. Menurut keterangan Kapolres OKU imam Zamroni di Baturaja “Untuk Kecamatan Ulu Ogan tercatat satu ada satu unit rumah hanyut, 60 unit rusak berat ddan 77 Unit Rusak ringan,’’ katanya.

Jika dilihat dari korban yang terdampak bajir pertama dan ke-2 ini tentu saja ada perbedaan yang sangat signifikan baik secara segi kerusakan dan akibat dari arus airnya. Salah satu ada hal yang selalu menjadi pertanyaan. Manakah konsep yang benar antara naturalisasi versus normalisasi?. Tanpa perlu mencari konsep mana yang paling benar, kami meninjau dari aspek hidrologi dalam ilmu keteknikan untuk mengatasi banjir. Dari pandangan hidrologi, ada tiga air yang berperan dalam banjir pada kota-kota yang berada di tepi sungai. Pertama, air sungai yang berasal dari hujan yang turun di daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir melewati daerah atau kota. Air ini bervolume sangat besar. Debitnya dapat mencapai ratusan bahkan ribuan meter kubik per detik, tergantung luas DAS dan curah hujan.

Air jenis ini juga mengalir dengan kecepatan cukup tinggi, jika kapasitas alir sungai tidak mencukupi akan terjadi luapan yang mengakibatkan banjir.
Ternyata ada beberapa faktor Penyebab terjadinya banjir bandang tersebut.

1. Curah Hujan Tinggi
Dengan Tinnginya curah hujan yang terjadi, maka akan berdampak pada peningkatan dan volume air yang ada didaratan. Dan apabila air tersebut air tersebut tidak mampu diserap tanah dengan maksimal atau di alirkan ke sungai, maka akan sangat berbahaya dan menjadi genangan2-genangan air yang memicu penyebab terjadinya banjir bandang.
Terutama jika lokasi dari terkumpulnya air tersebut berada didaerah tinggi. Tentu akan berdampak menghancurkan bagi daerah yang ada dibawahnya.

2. Membuang Sampah Sembarangan
Penyebab terjadinya banjir bandang yang satu ini tidak perlu diragukan lagi. Kebiasaan buruk dalam membuang sampah sembarangan suda pasti akann memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Selain tercemarnya lingkungan dan menjadi kotor,jenis sampah seperti sampah plastik akan membuat aliran sungai akan terhambat apabila ada sampah yang tersangkut.
Ketika sampah-sampah tersangkut, maka aliran sungai akan berhenti atau terhambat dan volumenya akan semakin besar. Saat volume semakin besar,maka akan berpotensi dapat menimbulkan dampak berupa tekanan yang sangat besar.

3. Penebangan Hutan Liar
Hal ini juga sudah menjadi hal yang cukup penting diperhatikan. Mengingat pohon memiliki fungsi dalam meresap air yang jatuh ke tanah. Apabila air hujan tersebut tidak dapat diserap dengan sempurna, maka akan meningkatkan risiko banjir bandang, terutama jika pusat dari banjir tersebut ada di perbukitan.

Selain banjir yang besar, ketika pohon ditebang secara liar, maka akan menimbulkan risiko terjadinya longsor. Hal ini karena salah satu faktor dari longsor adalah tidak mampunya tanah menahan beban dari air yang terus menerus menerpa. Hal ini akan semakin parah jika lokasinya berada di sekitar tebing yang cukup curam.

4. Bangunan didaerah Resapan Air
Ketika banyak sekali bangunan penduduk di daerah yang seharusnya menjadi lokasi resapan air, makan akan berpotensi menimbulkan aliran air yang besar dan sangat kencang ketika hujan deras tiba. Kondisi tersebut dapat seakan-akan membuat lokasi pemukiman dan jalan-jalan yang seharusnya menjadi resapan air seakan-akan sebuah selokan, yang justru mempercepat laju adari aliran air hujan tersebut, dan yang pasti dalam volume yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *