Opini

Balada PHK Senandung Pilu yang Tak Dirindu

69
×

Balada PHK Senandung Pilu yang Tak Dirindu

Sebarkan artikel ini

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Satu per satu pabrik industri padat karya, seperti tekstil, garmen, hingga alas kaki di Indonesia menghentikan operasionalnya, alias tutup. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun tak terelakkan lagi. Namun siapa sangka, bukan hanya buruh/pekerja saja yang terdampak oleh adanya fenomena PHK, melainkan warga di sekitar pabrik yang tutup itu pun turut terkena imbasnya. Pantauan CNBC Indonesia, Kamis (13/6/2024) di lokasi salah satu pabrik kosong di Provinsi Jawa Barat, tak ada lagi hiruk pikuk pekerja pabrik yang biasanya menghidupkan aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya. Hanya terlihat bekas-bekas lapak penjual yang ditinggalkan, seiring dengan semakin berkurangnya pekerja pabrik, hingga akhirnya tak tersisa.

Demikianlah badai PHK massal terus menerjang Indonesia. Ini mengindikasikan bahwa saat ini perekonomian Indonesia sangat tidak baik-baik saja. Pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang selama ini dibangga-banggakan dengan pertumbuhan ekonomi stabil pada level 5%, ternyata tidak berkorelasi positif dengan kinerja industri dan penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi dengan kondisi seperti ini dipertanyakan dari sisi kualitasnya.

*Balada Pilu PHK Senandung Kegagalan Kapitalisme*

Sungguh kapitalisme sebagai sistem yang diterapkan di Indonesia selama ini telah menyanyikan senandung pilu di hidup rakyatnya. Kapitalisme menjerumuskan negara dalam mengelola perekonomian sampai pada tingkat kegagalan yang sempurna, yaitu kegagalan menyejahterakan rakyatnya.

Massalnya PHK telah menunjukkan menunjukkan gagalnya negara dengan sistem yang dianutnya. Perekonomian yang gsgal tidak semanis janji penguasa semasa kampanye. Janji- janji yang dicitrakan dengan membuka lapangan kerja secara luas nihil aktualisasi. Opini terkait UU Ciptaker yang akan membuka lapangan kerja realisasinya nol besar.

Suatu hal yang wajar jika semua ini terjadi. Bermula dari kapitalisme sebagai sistem yang diterapkan, kapitalisme telah memosisikan penguasa negara hanya bertugas sebagai regulator dan fasilitator, yaitu hanya ketok palu regulasi dan mengawasi. Walhasil posisi tersebut senyatanya hanya menguntungkan para kapitalis (investor) saja, pekerja merugi dengan berbagai kenyataan pahit yang diterima.

Mekanisme alih daya (outsourcing) yang menjadikan pekerja minim kesejahteraan dan bisa diputus kontrak kerja sewaktu-waktu tanpa ada kompensasi berupa pesangon menjadikan pekerja semakin sulit. Kapitalisme telah menjadikan perusahaan berbuat licik dengan merekrut pekerja namun berbiaya murah. Padahal Outsourcing sudah mendapat protes keras dari kalangan buruh sejak dilegalkan di Indonesia melalui UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, tetapi pemerintah tetap bergeming dan tetap berpihak pada para kapitalis.

Demikianlah negara menjadi pelayan investor kapitalis, bukan menyejahterakan rakyat, termasuk pekerja. Senandung PHK terus membuat pilu para pekerja demikian juga rakyat secara keseluruhan. Keberpihakan negara dalam sistem kapitalisme pada para kapitalis, bukan pada rakyat telah merenggut senyum rakyat untuk hidup sejahtera. Massalnya PHK membinasakan gairah kerja rakyat Indonesia.

*Sejahtera Nyata Dalam Islam*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *