Opini

Balada Krisis Air Bersih di tengah “Bersoleknya” IKN

508
×

Balada Krisis Air Bersih di tengah “Bersoleknya” IKN

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

 

IKN sedang bersolek secantik mungkin dengan anggaran jumbo. Di luar pagar istana, ada warga Balikpapan dan PPU yang harus berjuang setengah mati sekadar untuk mendapatkan air bersih.

Sebut saja warga di kawasan Rengganis, Kelurahan Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan sempat berkumpul. Mereka jenuh dengan respons pihak PTMB dalam menyikapi keluhan warga. Pasalnya, sejumlah warga di kawasan tersebut belum mendapat giliran distribusi air sejak lebaran 2024 lalu. Bahkan salah seorang warga, mengaku sejak Agustus 2023 silam belum mendapatkan distribusi air.

Di PPU sendiri mega proyek pembangunan proyek-proyek air seperti bendungan, intake, transmisi pipa sungai hingga proyek penanganan banjir yang dikemas atas nama proyek sponge city, di bangun di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Sepaku diduga telah menimbulkan daya rusak bagi masyarakat Sepaku. Puluhan keluarga Suku Balik kehilangan akses terhadap sungai.

Bendungan Sepaku Semoi yang berada di bentang Sungai Mentoyok atau sering disebut Sungai Tengin dan Intake Sepaku, di bangun di atas bentang Sungai Sepaku. Di lapangan masyarakat justru kesulitan mendapatkan air untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Air yang dulu gratis dari sungai kini harus dibeli dalam bentuk air galon. Banyak keluarga yang harus menunggu pembagian air dari pihak kontraktor proyek bendungan.

Tidak hanya Balikpapan dan PPU, krisis air bersih juga dirasakan masyarakat Desa Perangat Selatan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara diakibatkan dalam dua bulan terakhir fasilitas air bersih tidak dapat berfungsi maksimal. Padahal, fasilitas air bersih tersebut dibangun dengan Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) sebesar Rp600 Juta.

Penguasa Abai dengan Rakyat

Miris tentunya di tengah pembangunan IKN dengan anggaran fantastis masyarakat Kaltim masih mengalami krisis air bersih. Padahal air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Air merupakan kebutuhan primer, seharusnya negara menyediakan secara gratis dan mengusahakan dengan berbagai cara demi tercukupinya kebutuhan primer ini. Jika ada kerusakan maka negara harus segera memperbaiki agar akses air pulih. Sayangnya balada krisis air bersih ini dibiarkan bertahan lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *