Opini

Bahaya Kejahatan Mengintai Anak, Buah Sistem Sekulerisme

82

Oleh : Salma Hajviani

 

Seorang siswi nekat lompat dari angkot. Kejadian bermula saat korban yang hendak turun dari angkot yang ditumpanginya, namun sang sopir malah melaju makin kencang,” tulis unggahan @sekitarbandungcom.

Ia mengalami luka-luka di bagian wajah setelah melompat dari angkot yang ditumpanginya. Selain luka fisik, trauma pun dialaminya. Korban menjadi takut menggunakan transportasi umum, khususnya, mobil angkot. Hal ini diungkapkan satu hari setelah korban siuman. Diketahui, pasca kejadian, korban sempat tidak sadarkan diri.

Dilansir dari kumparan 19/05/2024, Korban adalah seorang pelajar perempuan bernama Annisa Aprilina berusia 17 tahun yang menjadi korban dari aksi sopir angkot ugal-ugalan pada Rabu (15/5) di Jalan A.H Nasution, hingga saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Ujung Berung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban naik angkot warna hijau jurusan Cicaheum-Cileunyi. Salah satu keluarga korban, Dery Ilyasa (20), menjelaskan, peristiwa itu terjadi lantaran sopir tidak segera berhenti dan membuat panik sang korban. Padahal, Annisa sudah berkali-kali meminta untuk diturunkan. Korban merasa panik lantaran tinggal menyisakan dia sendiri di dalam angkot.
Penumpang angkot itu asalnya banyak. Ada beberapa temannya, satu per satu pun turun seperti biasa. Namun pada saat Annisa meminta untuk turun, sopir angkot tersebut malah melaju makin kencang. Sehingga membuat Annisa menjadi panik. Yang kemudian akhirnya memilih untuk loncat dari angkot dalam keadaan melaju kencang.

Menurut Dery, peristiwa yang menimpa ponakannya ini, terindikasi ada percobaan penculikan dari sopir.
Melihat fakta yang terjadi, kehidupan Sekuler ini sungguh telah menghasilkan berbagai tindak kejahatan. Sebab, kebebasan tingkah laku merupakan hak yang diusung sistem rusak ini. Masyarakat merasa bebas melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Tak peduli membuat orang lain rugi atau tidak.

Perlindungan terhadap hak-hak anak saat ini memang sangat rendah. Bahkan upaya KPAI maupun LSM yang telah berupaya maksimal, namun faktanya persoalan yang menimpa anak-anak tak kunjung terselesaikan dan tersolusikan.

Akibat sistem yang sekuler ini, kehidupan anak-anak menjadi tidak nyaman dan penuh dengan marabahaya yang kapan saja bisa menerkamnya. Mereka yang lemah dan sangat membutuhkan perlindungan, sudah seharusnya mendapatkan perlindungan agar kehidupan mereka aman.

Exit mobile version