Opini

Badai PHK Menerjang, Bagaimana Nasib Pekerja Sekarang?

83
×

Badai PHK Menerjang, Bagaimana Nasib Pekerja Sekarang?

Sebarkan artikel ini

Oleh Ummu Kholda
Pegiat Literasi

Gelombang PHK masih terus melanda beberapa perusahaan besar di negeri ini. Tak terkecuali perusahaan alas kaki merek Bata yang terpaksa menyetop pabrik produksinya yang berada di daerah Purwakarta, Jawa Barat. Perusahaan ini mem-PHK massal karyawannya sebanyak 233 orang. Padahal alas kaki merek Bata ini cukup legendaris dan terkenal serta peredarannya pun merata hampir di setiap daerah. Namun apa daya, ketidakstabilan ekonomi dan berbagai kondisi global cukup berperan dalam memicu maraknya PHK akhir-akhir ini.

Menurut Ketua Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Disnakertrans Jawa Barat, Firman Desa, fenomena ini merupakan kelanjutan dari banyaknya pabrik di sektor padat karya yang tutup di Provinsi Jawa Barat. Ia mendata sudah banyak pabrik di daerah Karawang yang tutup dan merelokasi ke tempat lain, seperti ke Jawa Tengah, terutama pascapandemi Covid-19 lalu. (CNBC Indonesia, 11/5/2024)

Masih dari laman yang sama, selain pabrik alas kaki Bata, selama kurun waktu 2023-2024 sudah tercatat ada beberapa pabrik ‘raksasa’ yang tutup di Jawa Barat. Di antaranya PT Hung-A Indonesia, PT Dean Shoes, PT Besco Indonesia, PT Eins Trend, dan masih banyak lagi pabrik di Jawa Barat yang memberhentikan ribuan pekerjanya. Dari data tersebut, Jawa Barat pun menjadi provinsi penyumbang angka PHK yang tinggi.

Dampak PHK

Sudah menjadi hal yang umum, bagi para pekerja yang terkena PHK membuat mereka kehilangan mata pencaharian. Kondisi ini juga berdampak pada munculnya berbagai kesulitan hidup. Meskipun mereka diberi pesangon, akan tetapi tetap saja akan melalui masa tunggu mencari kerja dalam keadaan harap-harap cemas. Sementara, pada saat yang sama mereka juga harus mengeluarkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Diperparah lagi ketika dihadapkan pada persoalan harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik, mau tidak mau akhirnya besar pasak daripada tiang. Belum lagi biaya kesehatan dan pendidikan serta pajak yang terus berjalan dan harus dibayar. Alhasil, uang pesangon pun tidak mampu menopang itu semua. Mereka terpaksa harus memutar otak bagaimana caranya agar kebutuhan hidup keluarga tetap tercukupi. Mereka meminimalkan belanja demi menghemat pengeluaran, yang penting kebutuhan pokok terpenuhi, sedangkan kesehatan maupun pendidikan nomor sekian.

Kondisi demikian tentu menjadi kekhawatiran banyak orang. Yang jelas dengan mereka di-PHK pasti akan menambah deretan angka pengangguran di negeri ini. Dengan banyaknya pengangguran, masalah lainnya pun muncul, seperti kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Ironisnya, situasi ini justru terjadi di tengah gencarnya investasi yang masuk ke dalam negeri. Anak bangsa malah menjadi tunakarya di negeri sendiri.

Sistem Kapitalisme Tidak Berpihak kepada Rakyat

Masalah PHK yang terus terjadi beberapa tahun terakhir ini, semestinya jangan dibiarkan meluas. Akan tetapi harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Pemerintah jangan setengah-setengah dalam mengambil kebijakan seperti memberi bantuan berupa BLT, PKH, sembako dan lainnya. Yang semua itu tidak menyelesaikan masalah, karena selama ini hanya mampu menutupi kebutuhan sebagian masyarakat saja, dengan besaran yang alakadarnya, belum lagi jika bantuan yang diberikan salah sasaran. Namun, negara harus menyediakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat.

Sayangnya, hal tersebut sulit untuk dilakukan. Karena bencana PHK ini adalah buah dari sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang berlandaskan keuntungan dan materi semata. Maka tak heran jika orientasi dalam segala kebijakannya adalah bisnis. Termasuk perusahaan-perusahaan yang dengan mudahnya melakukan berbagai cara agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, meski harus “mengistirahatkan” ribuan karyawannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *