Opini

AROMA KAPITALISASI DI BALIK PEMADAMAN LISTRIK

148
×

AROMA KAPITALISASI DI BALIK PEMADAMAN LISTRIK

Sebarkan artikel ini

Oleh: N.Grizelle
(Aktivis Dakwah)

Blackout atau pemadaman listrik besar-besaran dengan durasi yang cukup lama masih terus terjadi di negeri ini dengan pasokan energi yang melimpah. Kali ini, kejadian blackout menimpa sebagian wilayah Pulau Sumatra. Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki cadangan listrik berlebih. Sejak Selasa (4/6/2024) hingga Rabu ( 5/6/2024), aliran listrik mulai dari Aceh hingga Lampung mengalami pemadaman bergilir dengan durasi yang bervariasi, mulai dari 10 jam, bahkan ada yang hingga 24 jam.

Menurut penjelasan PLN, padamnya aliran listrik tersebut terjadi karena adanya gangguan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kV Linggau-Lahat yang terjadi pada Selasa (4/6). Sistem transmisi tersebut merupakan jaringan interkoneksi yang berhubung dengan sejumlah wilayah di Sumatra. Hal ini mengakibatkan terganggunya tak kurang dari 29.000 gardu distribusi yang memasok listrik pelanggan.
Hal ini, jelas menunjukkan lemahnya mitigasi dan pemeliharaan listrik.

Padahal kita tahu bahwa listrik adalah kebutuhan publik yang menjadi tanggung-jawab negara. Kelemahan tersebut akan terus terjadi sebab penguasa saat ini memang setengah hati dalam mengurus urusan rakyat. Disatu sisi, peristiwa tersebut memunculkan sorotan kurang profesionalnya PLN dalam mengurus listrik rakyat. Padahal saat itu ada penambahan permintaan listrik dan pembangkitnya pada transmisi Sumatra di masa yang akan datang. Dengan demikian dibutuhkan adanya profesionalisme pengelolaan SDA yang mendorong dibukanya investasi asing. Kejadian ini, membuat seolah-olah investasi sangat penting dilakukan. Padahal kalau ditelisuri lebih jauh, saat ini sebagian besar Sumber Daya Alam (SDA) termasuk SDA sumber listrik telah dikuasai oleh kapital swasta.

Inilah prinsip kebebasan kepemilikan dalam sistem kapitalisme, membuat para pemilik modal leluasa menguasai kekayaan milik rakyat melalui Undang-undang yang disahkan oleh penguasa. Swastanisasi inilah yang membuat sebanyak apapun cadangan energi yang dimiliki rakyat akan selalu kekurangan. Meski cadangan energi tersebut melimpah, TDL listrik akan terus naik bahkan pemadaman akan terus terjadi secara bergilir. Jadi solusi yang harus diberikan bukan investasi namun aturan yang melarang swastanisasi kekayaan alam oleh para kapital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *