Opini

Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul

103
×

Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul

Sebarkan artikel ini

Oleh Purwanti
Aktivis Muslimah

Bocah laki-laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan dan kekerasan seksual (sodomi). Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menetapkan pelaku seorang pelajar berusia 14 tahun sebagai tersangka dan berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Selain itu, ada pula seorang santri (13 tahun) di salah satu pondok pesantren di Provinsi Jambi, menjadi korban pembunuhan, dan pelakunya adalah senior korban sendiri.

Meningkatnya kasus anak berkonflik hukum merupakan alarm bagi masyarakat dan negara. Dari data Direktorat Jenderal Permasyakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, menunjukkan peningkatan pada periode 2020 hingga 2023 per 26 Agustus 2023, tercatat hampir 2000 anak berkonflik hukum. Sebanyak 1.467 anak di antaranya berstatus tahanan dan masih menjalani proses peradilan. Sementara 526 anak sedang menjalankan hukuman sebagai narapidana. (kompas.id, 29-8-2023).

Berdasarkan data dari KPAI, ada dua jenis tindakan kriminal yang paling banyak dilakukan oleh anak-anak, yaitu tindakan kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Pada 2020, proporsi tindak kekerasan fisik mencakup29,2 persen dari total pidana, dan kekerasan seksual berada di angka 22,1 persen.

Bobroknya Sistem Kapitalisme

Maraknya kriminalitas yang di lakukan oleh anak-anak, menunjukkan potret buram output dalam sistem pendidikan Kapitalisme. Sistem pendidikannya telah menghasilkan siswa yang jauh dari keimanan dan ketakwaan. Apalagi tujuan pendidikannya adalah materi. Sangat mengagungkan kebebasan dalam perilaku, tanpa memiliki batasan halal haram dalam melakukan perbuatan.

Hilangnya peranan orang tua sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, karena orang tua terlalu sibuk bekerja. Sistem hidup masyarakat yang di dominasi paham kapitalisme telah menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan keluarga. Akibatnya, keluaga miskin visi pendidikan. Serta minimnya pemahaman orang tua tentang pendidikan anak, terutama pendidikan agama. Mereka menganggap agama hanya sebuah ibadah ritual, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur atas segala persoalan hidup.

Selain itu negara untuk lepas tangan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan, menyebabkan para orang tua harus bekerja lebih banyak diluar rumah, sehingga perhatian dan kasih sayang terhadap anak kurang.

Sanksi yang berlaku sekarang tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku. Apalagi jika pelaku anak-anak (usia kurang dari 18 tahun), di dalam peradilan anak tidak dapat terjerat sanksi pidana. Inilah sistem kapitalis sangat menjunjung tinggi kebebasan dan HAM. Hukum di buat tidak serius untuk menuntaskan masalah. Hukum hanya berposisi sebagai sanksi moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *