Opini

Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul?

94
×

Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rufaidah Annisa

Degradasi moral generasi kian hari semakin menjadi, hal ini membuat kita resah terkhusus para orangtua.
Dikutip dari sukabumiku.id, bocah laki – laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi korban pembunuhan, juga menjadi korban kekerasan seksual sodomi. Pelakunya seorang pelajar SMP yang berusia 14 tahun. Pada kasus yang lain juga terjadi di Provinsi Jambi, seorang santri berusia 13 tahun pada sebuah pondok pesantren menjadi korban pembunuhan. Pelakunya adalah senior korban sendiri.

Ini hanyalah beberapa kasus anak yang bermasalah dengan hukum. Mengapa anak menjadi pelaku kriminal?, bagaimana dengan peran keluarga?
Menurut data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, jumlah anak yang berkonflik dengan hukum menunjukkan tren peningkatan pada periode 2020 hingga 2023. Per 26 Agustus 2023, tercatat hampir 2.000 anak berkonflik dengan hukum. Sebanyak 1.467 anak di antaranya berstatus tahanan dan masih menjalani proses peradilan, sedangkan 526 anak sedang menjalani hukuman sebagai narapidana.

Jika dibandingkan dengan data tiga tahun yang lalu, jumlah anak yang terjerat hukum belum pernah mencapai angka 2.000. Melihat data 2020-2021, jumlah anak yang tersandung kasus hukum sekitar angka 1.700an anak, kemudian meningkat menjadi 1.800an anak pada tahun berikutnya.
Tren yang cenderung meningkat ini merupakan alarm bahwa generasi kita sedang tidak baik-baik saja dan cenderung pada kondisi yang problematis. (Reverensi oleh Google : Meningkatnya Kasus Anak Berkonflik Hukum, Alarm bagi Masyarakat dan Negara).

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output dalam sistem pendidikan Kapitalisme yang semakin merusak moral dan kepribadian generasi. Orangtua yang tidak memperhatikan pendidikan anak dengan benar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan anak, diantaranya :
orangtua yang selalu sibuk bekerja, orang tua hanya memenuhi kebutuhan materi anak saja tanpa memperhatikan pendidikan anak yang paling utama, yaitu pendidkan agama. Ketika diperhadapkan dengan masalah kedua orangtua yang sama-sama bekerja, selalu sibuk dalam pekerjaannya, saat itulah anak akan cenderung diasuh dan dididik oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan tempat anak tumbuh akan berpengaruh besar pada perubahan sikap dan kepribadiannya.

Keluarga broken home, melihat banyak fakta yang terjadi dilapangan, kebanyakan anak-anak yang bermasalah dengan hukum berasal dari keluarga broken home. Akibat kurangnya kasih sayang dari kedua orangtua membuat mereka cenderung bertingkah dan berulah untuk menarik perhatian kedua orangtuanya.

Keterbatasan ekonomi menjadi salahsatu pemicu orangtua kurang memperhatikan pola asuh dan pendidikan anak, dikarenakan sibuknya orangtua dalam mencari nafkah.
kurangnya kesadaran orangtua dalam hal pendidikan karena minimnya literasi dan pengetahuan seputar pola asuh dalam mendidik anak menjadi salah satu faktor mengapa pendidikan keluarga mandul. Mengapa orang tua kurang memiliki kesadaran? Bisa jadi karena kurangnya pendidikan orang tua dalam memahami Islam dengan benar. Orang tua pun minim ilmu dalam mendidik anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *