Opini

Akses Pupuk Sulit, Petani Menjerit

105
×

Akses Pupuk Sulit, Petani Menjerit

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ratni Kartini
(Pegiat Literasi)

 

Ayo kawan kita bersama
Menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu, ambil pangkurmu
Kita bekerja tak jemu-jemu

Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam
Tanah yang longgar jagung kutanam
Beri pupuk supaya subur
Tanamkan benih dengan teratur
Jagungnya besar lebar buahnya
Tentu berguna bagi semua

Cangkul, cangkul, aku gembira
Menanam jagung di kebun kita

Lirik di atas adalah lagu Menanam Jagung karya Ibu Sud. ‘Beri pupuk supaya subur’, adalah hal yang lazim dilakukan petani agar tanaman menghasilkan hasil panen yang baik. Namun sayang seribu kali sayang, akses pupuk bersubsidi sulit, petani pun menjerit. Para petani harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Sebagaimana yang dialami oleh petani di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Barat, NTT, mereka harus menempuh jarak sekitar 80 km untuk mendapatkan pupuk bersubsidi (beritasatu.com, 23/06/2024).

Sulitnya petani mengakses pupuk bersubsdi adalah akibat terbatasnya jumlah pupuk dan ketatnya pemenuhan persyaratan untuk memperolehnya. Untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, mereka harus memenuhi kriteria yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 01 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Permentan Nomor 10 Tahun 20 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian. Pada pasal 3 ayat 5 beleid itu ditetapkan bahwa petani yang mendapatkan pupuk bersubsidi harus tergabung dalam Kelompok Tani dan terdaftar dalam elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e- RDKK) (kompas.com, 01/05/2024).

Selain itu tidak semua jenis usaha tani dapat membeli pupuk bersubsidi. Pupuk bersubsidi hanya diperuntukkan bagi petani yang melakukan usaha tani subsektor tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai), hortikultura (cabai, bawang merah, dan bawang putih), dan/atau perkebunan (tebu rakyat, kakao, dan kopi) dengan luas lahan yang diusahakan maksimal 2 hektar.

Adanya berbagai syarat untuk memperoleh pupuk bersubsidi di atas bukan tanpa alasan. Ada tiga faktor penyebab kuota pupuk bersubsidi dibatasi. Alasan pertama dikarenakan bahan utama pembuat pupuk itu masih harus impor dari luar negeri. Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa bahan baku pupuk ternyata masih impor. Salah satunya adalah amonium nitrat sekitar 21% dari total kebutuhan industri. Meski saat ini sedang ada pembangunan PT Kaltim Amonium Nitrat (KAN) yang merupakan joint venture PT Pupuk Kaltim dengan PT Dahana, nyatanya hanya bisa menutupi impor 8% amonium nitrat sehingga pemerintah tetap harus impor (kompas.com, 29/02/2024).

Alasan kedua karena peningkatan permintaan pupuk bersubsidi jauh lebih besar dari produksinya. Meskipun Pemerintah telah mengalokasikan pupuk bersubsidi nasional dari semula 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton pada tahun 2024, namun jumlah ini masih jauh di bawah kebutuhan yaitu sekitar 12 juta ton (dpr.go.id/01/05/2024).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *